Gadogadopers.com – Gelombang demonstrasi besar yang berlangsung di Jakarta kembali menyisakan duka mendalam. Seorang pengemudi ojek online bernama Affan Kurniawan (21) meninggal dunia setelah terlindas kendaraan taktis Brimob ketika kericuhan terjadi di tengah aksi protes buruh dan mahasiswa. Peristiwa ini memicu sorotan publik karena menambah daftar korban jiwa dari rangkaian aksi unjuk rasa yang kian memanas, Pemerintah diminta bertanggung jawab.
Ketua Komisi III DPR RI Habiburrokhman menilai pemerintah tidak bisa lepas tangan terhadap peristiwa tersebut. Ia menekankan bahwa negara seharusnya hadir untuk menanggung beban ekonomi yang sebelumnya dipikul almarhum, terutama karena Affan dikenal sebagai tulang punggung keluarga. Dorongan agar pemerintah mengambil alih tanggung jawab nafkah keluarga korban pun semakin menguat di tengah situasi sosial yang sedang bergejolak.
Menurutnya, bantuan tidak hanya sebatas santunan sementara. Negara diminta menjamin keberlangsungan pendidikan anak-anak almarhum hingga perguruan tinggi. Hal itu dinilai sebagai bentuk nyata kehadiran pemerintah di tengah rakyat yang menjadi korban dalam dinamika sosial maupun politik.
Di sisi lain, desakan agar anggota Brimob yang terlibat dalam insiden ini diproses hukum juga semakin kuat. Banyak pihak menilai, penindakan tegas sangat diperlukan untuk mengembalikan kepercayaan publik terhadap aparat penegak hukum. Sanksi kedinasan dan proses peradilan yang transparan dianggap penting demi menjawab rasa keadilan masyarakat.
Aksi demonstrasi yang memicu insiden ini bermula dari penolakan terhadap kenaikan tunjangan anggota dewan. Ribuan buruh, mahasiswa, dan pelajar turun ke jalan sejak awal pekan. Massa mendesak pemerintah dan DPR untuk meninjau kembali kebijakan yang dianggap tidak berpihak pada kondisi ekonomi rakyat. Namun, jalannya aksi berulang kali diwarnai bentrokan.
Bentrokan semakin intens ketika aparat berusaha membubarkan massa dengan gas air mata dan dorongan maju pasukan. Di sisi lain, para demonstran membalas dengan lemparan batu serta bambu. Situasi yang semakin tak terkendali berujung pada tragedi ketika kendaraan taktis Brimob melintas di tengah kerumunan, hingga akhirnya menewaskan Affan.
Kematian Affan menambah beban psikologis di tengah gejolak buruh yang menuntut keadilan sosial. Kehilangan tulang punggung keluarga tentu menjadi pukulan berat bagi orang-orang terdekatnya. Dalam konteks ini, desakan agar negara turun tangan bukan hanya menyangkut tanggung jawab moral, tetapi juga menyangkut kewajiban hukum dan kemanusiaan.
Gelombang protes yang masih terus berlangsung memperlihatkan bahwa ketidakpuasan publik belum mereda. Di sisi lain, tragedi yang merenggut korban jiwa dikhawatirkan dapat memperkeruh situasi apabila tidak segera disikapi secara serius oleh pemerintah. Transparansi, akuntabilitas, serta kepedulian sosial menjadi faktor kunci untuk meredam ketegangan yang ada.
Masyarakat menunggu langkah konkret pemerintah dalam merespons kasus ini. Apakah negara benar-benar hadir melindungi warganya atau justru abai terhadap penderitaan rakyat kecil, akan menjadi penentu arah kepercayaan publik ke depan.





