GadogadoPers

Terpercaya & Terdepan

Tragedi Kematian Satu Keluarga Terjun dari Lantai 22. Sumber Kompas.
Tak Berkategori

Kematian Satu Keluarga, Analisis Motif Terjun dari Lantai 22

Gadogadopers.com – Pakar Psikologi Forensik, Reza Indragiri Amriel, menegaskan bahwa kasus kematian satu keluarga yang tragis, yang terdiri dari suami, istri, dan dua anak mereka yang melompat dari lantai 22 apartemen Teluk Intan, Tower Topas, Penjaringan, Jakarta Utara (Jakut), pada Sabtu (9/3/2024), tidak bisa disederhanakan sebagai kasus bunuh diri, menyoroti aspek kompleksitas yang melibatkan motif dan keterlibatan anak-anak dalam peristiwa mengerikan ini.

Menurut pemeriksaan awal polisi, dugaan bunuh diri muncul dari rekaman kamera pengawas yang memperlihatkan keempat anggota keluarga tersebut bergerak di sekitar apartemen dan lift sebelum kejadian tragis itu terjadi. Namun, Reza menekankan perlunya bukti konkret bahwa keempat korban telah sepakat bersama untuk mengakhiri hidup mereka, sebuah aspek yang masih dalam proses pendalaman oleh pihak berwenang.

“Dalam kasus seperti ini, untuk menyimpulkan bahwa itu adalah aksi bunuh diri, bukti harus mengonfirmasi kesepakatan bersama dari semua individu terlibat,” ungkap Reza dengan tegas. “Bahkan jika ada kesepakatan, kehadiran anak-anak dalam situasi tersebut mengubah dinamika secara signifikan.”

Reza menyoroti fakta bahwa anak-anak sering kali menjadi korban tanpa kemauan mereka sendiri dalam kasus-kasus seperti ini. “Anak-anak tidak boleh dipandang sebagai individu yang secara sukarela ingin mengakhiri hidup mereka sendiri,” tegasnya. “Mereka harus dilihat sebagai korban dalam situasi yang melibatkan pemaksaan untuk bertindak, bukan sebagai pelaku.”

Pendapat Reza ini menimbulkan pertanyaan lebih lanjut tentang motif sebenarnya di balik tragedi ini. Meskipun kehadiran tangan-tangan terikat dalam lokasi kejadian menimbulkan dugaan kekerasan internal, Reza menegaskan bahwa kasus ini harus dilihat sebagai tindak pidana terhadap anak-anak. “Meskipun orang yang memaksa anak-anak untuk melakukan tindakan tersebut mungkin tidak dapat dipidana, kita harus menganggapnya sebagai tindakan kekerasan terhadap anak,” katanya.

Sebelum kejadian itu, keempat anggota keluarga terlihat dalam rekaman CCTV, meninggalkan mobil mereka dan naik lift menuju lantai 21. Interaksi yang terlihat mesra antara anggota keluarga tersebut tidak mencerminkan gambaran tradisional dari situasi bunuh diri.

Pemeriksaan lebih lanjut tentang interaksi mereka di apartemen dan peristiwa sebelum terjun dari lantai 22 menjadi kunci utama dalam penyelidikan polisi untuk mengungkap motif sebenarnya di balik tragedi ini. Meskipun masih banyak yang harus diungkap, Reza dan para ahli lainnya menyerukan untuk tidak menyerahkan label bunuh diri secara sembarangan, terutama dalam konteks yang melibatkan anak-anak sebagai korban.

“Kasus ini harus menjadi peringatan serius bagi masyarakat dan pemerintah tentang perlunya melindungi anak-anak dari segala bentuk kekerasan, termasuk pemaksaan untuk melakukan tindakan yang merugikan mereka,” tandas Reza, memperkuat panggilan untuk penanganan yang lebih serius terhadap masalah kekerasan dalam keluarga dan perlindungan anak-anak dari ancaman yang mengancam nyawa mereka.

Dengan investigasi kematian satu keluarga yang masih berlangsung, masyarakat dan pihak berwenang diharapkan untuk menunggu hasil penyelidikan yang lebih rinci, sambil mengambil pelajaran penting tentang pentingnya memperlakukan kasus-kasus seperti ini dengan sensitivitas dan kehati-hatian yang tepat.

Baca juga: Ibu Diduga Bunuh Anak di Bekasi, Polisi Tetapkan Tersangka

Sumber: Kompas.

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments